Dalam rintihan hujan
aku sendiri ditemani secangkir kopi dan setangkai rokok
terduduk dalam jendela kamar yg sunyi
menghitung tetes demi tetes air hujan yg menepi ke bumi
Ta ada yg dapat ku pahami saat senja ini
mentari enggan menampakan ronanya
perlahan ku minum kopi yg tertuang
ku hisap rokok yg terpegang
entah...
seketika itu harap mulai musnah
bersama hujan dan tiupan angin
putus asa mulai menghampiri jiwa yg pesimis
ta mengerti apa yg mesti ku perbuat
disaat hati mulai menjadi keping yg ta utuh
ku rindukan cahaya jiwa yg slalu mengusir gelap masa hariku
sosok gadis yg hadir disetiap tangis dan tawaku
entahlah
apa harus aku tetap percaya pada wanita atau tidak
karena perjalanan slalu terusik luka dan nista
mengapa ada dusta?
Mengapa tercipta penghianatan?
Apa dunia ini adil?
Lalu,
mengapa aku yg slalu merasa perih ketika mulai ku tanamkan hati?
Apa aku ta pantas menikmati indah?
Oh tuhan,
apakah masih ada sosok wanita yg dapat aku percaya?
Aku tlah putus asa mencoba
hingga yg ku temui hanya asa yg terkuka
sampai kapan?
Sampai seperih apa yg harus ku rasa?
Hingga satu perempuanpun ta dapat ku percaya
jiwa ini butuh seseorang
raga ini butuh teman
aku ta sanggup lagi jika harus menelan kecewa
aku ta mampu lagi jika harus menahan luka
aku putus asa, Tuhan !
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar